Senin, 05 Desember 2011

Ribuan Warga Papua Kelaparan


Bayi usia 6 bulan digendong ibunya yang kekurangan ASI akibat krisis pangan yang melanda tempat tinggal mereka di Kampung Pogapa, Distrik Homeyo, Kabupaten Intan Jaya, Papua, Sabtu (19/11).(foto:Dok/John Cutts)

--
JAKARTA - Ribuan warga, setidaknya di tiga distrik di Kabupaten Intan Jaya, Papua, dilaporkan terancam kelaparan. Cuaca buruk dalam beberapa bulan terakhir telah menghancurkan hasil pertanian warga dan menyebabkan krisis pangan. Bantuan dari pemerintah masih terhambat biaya.

Tiga distrik di Kabupaten Intan Jaya yang warganya dilaporkan oleh tokoh masyarakat dan dewan gereja kepada pemerintah kabupaten mengalami kelaparan adalah Distrik Homeyo, Distrik Wandai, dan Distrik Hitadipa.

Ketika dihubungi SH dari Jakarta, Selasa (22/11) malam, relawan sosial John Cutts yang baru tiba di Kabupaten Nabire dari Kabupaten Intan Jaya, mengungkapkan banyak warga kelaparan. John mengatakan, warga mengeluh mengalami kondisi seperti itu sejak lima bulan terakhir.
"Saya dengan mata saya sendiri, melihat mereka, anak-anak sudah kurus, punya rambut sudah memerah," kata John, yang tinggal di Tanah Papua sejak 1954. Warga Intan Jaya, menurut John, belum pernah mengalami cuaca buruk seperti yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir.

Tanaman yang ditanam warga untuk dikonsumsi, seperti ubi dan sayur, di kebun hancur akibat curah hujan yang begitu tinggi dari atas langit Kabupaten Intan Jaya dalam beberapa bulan terakhir. "Saya sudah masuk ke kebun (warga dan melihat) ubi jalar busuk di dalam tanah," ujar John.

Ia mengatakan, hujan memang sudah tiga minggu ini berhenti, namun cuaca buruk selama berbulan-bulan telah menghancurkan hasil pertanian. Krisis pangan pun tak terelakkan. Padahal, kata dia, warga butuh makanan untuk kembali bercocok tanam.

John mengatakan, warga di Kabupaten Intan Jaya kini sangat membutuhkan bantuan pangan. Dia, atas bantuan individu dan lembaga, di antaranya Yayasan Donor Kasih Indonesia, telah mengirimkan 10 ton beras, mi instan, minyak goreng, susu dan kacang kedelai. Ia mendengar, bantuan pemerintah sebanyak 3 ton beras masih tertahan di Nabire.

Dihubungi terpisah, Sekretaris Daerah Kabupaten Intan Jaya David Setiawan, mengatakan pemerintah telah mengirimkan tim guna mengecek ke wilayah-wilayah yang dilaporkan warganya mengalami krisis pangan sejak dua minggu lalu. Namun, kata dia, belum ada laporan masuk dari tim.

"Kelaparan belum, masih gejala," ujarnya. Menurut David, krisis pangan yang melanda warga Intan Jaya semata bukan hanya akibat cuaca buruk, melainkan warga yang sekarang ini tidak fokus menggarap pertanian.

David menjelaskan, jumlah penduduk Kabupaten Intan Jaya per Maret 2011 sebanyak 84.445 jiwa. Distrik Sugapa memiliki penduduk 19.285 jiwa, Distrik Homeyo 16.755 jiwa, Distrik Wandai 9.991 jiwa, Distrik Biandoga 16.861, Distrik Agisiga 11.058 jiwa, dan Distrik Hitadipa 12.495 jiwa.

Kepala Dinas Kesehatan dan Sosial Intan Jaya Yacob Sani mengatakan, kondisi warga telah dilaporkan kepada Bupati, berikut dengan proposalnya pada Agustus 2011. "Waktu itu Pak Bupati bilang karena tidak ada data dan dokumen, sehingga tidak serius tanggapi masalah itu," ujarnya.

Yacob mengatakan, pemerintah telah mengirimkan bantuan 3 ton beras, namun hingga kini masih tertahan di Nabire. "Kami tidak bisa salurkan karena membutuhkan biaya besar," ujarnya. Biaya carter pesawat paling murah Rp 26 juta.

Hingga sekarang, kata Yacob, pemerintah belum memiliki data jumlah penduduk di Kabupaten Intan Jaya yang mengalami kelaparan, seperti yang telah dilaporkan tokoh masyarakat dan dewan gereja kepada pemerintah. Kepala dari enam distrik di Intan Jaya hingga kini belum memberikan laporan.
Penulis : Ruhut Ambarita

[]

0 komentar:

Posting Komentar